Langsung ke konten utama

Parents issues never been so easy.

Talking about parent issues is like riding a time machine. Because its 2019 and I am pretty surprised that your parents still had a strict standart about their daughter in law. Nggak sampai dijodohin macam Siti Nurbaya kan ya? Fyuh.

Well, I am glad that I have a parent who told me kalau zaman sekarang itu udah bukan zamannya anak manut orang tua, tapi orang tua yang nurut anak (soal pilihan jodoh). Kalau soal standar nilai sekolah mah saya nggak berani melawan. Nilai sempurna bagi mama adalah 100, selain 100, berarti saya bodoh. Tapi standar pasangan sempurna? Belio memasrahkannya pada saya.

Sebab, isi hati manusia sangat tidak bisa dipaksakan. Love is artificial but its a natural process. Rumit ya? Yawes ngono iku intinya. Lagipula, memaksakan kehendak juga bukan pilihan yang tepat karena kita punya standar baik buruk masing-masing.

Tapi ya apa daya, mendapatkan restu ibu ternyata lebih sulit dari menyalip bis restu panda.

But if there's a will there's a way. Begitu kan kata buku SIDU?

So, I am not giving up on us just because we are having this parents issues.

As long as everything is still make sense and we could make things up, then I will. Selama tidak saling merendahkan maupun menganggap kepemilikan materi membuat kedudukan jadi lebih tinggi, I am cool.

Hope yo'd think the same.
Karena kalo berjuang sendirian, saya jadi kayak penyanyi solo karir dong?
Jangan dong ya. Se-solo-solonya soloist, tetep butuh bantuan saat mau perform.
Yuk, sama-sama berjuang mengisi panggung kehidupan. Sebagai teman duet ya, bukan sebagai soundman atau lighting! Apalagi kamu cuma jadi standmic. Hadehhhh~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Floating like an astronot

It's 2 am in the morning and I am crying. Deeply, hardly, and drown in jealousy. Saya cemburu melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Yang bisa mencintaimu dengan teramat sangat, sementara sekarang saya banyak marah dan sambatnya. Saya sadar, saya telah mematahkan hatimu karena hati saya dipatahkan orang tuamu. Saya melakukan hal yang saya benci, tanpa saya sadari. I love you constantly, yet I angry at you frequently. I am so stupid, I know. Saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan di blog ini. Seharusnya ini bukan Things I Wish You Knew, tapi Things I Wish US Knew. Karena saya sangat layak dikoreksi dan dihukum oleh kamu. Saya rindu keoptimisan di dalam tulisan saya, meski saya tahu betul, saya menulis postingan lama tersebut dengan berurai air mata. Namun pahamilah, mas. Saya tidak pernah menangis hingga sesak seperti beberapa malam belakangan. Se-emosi-emosinya saya dengan kita, dan segemas apapun saya ke kamu, rasanya tidak pernah sesesak ini. Perasaan in...

Waking up next to you was the best feeling ever

"Waking up next to someone that you love the most" is the only thing that I need the most. Saya selalu senang saat bisa menatap wajahmu. Ntah itu di kantor, di IG stories, atau waktu melakukan video call. Tapi, semua kesenangan itu tidak ada yang bisa menandingi perasaan bangun tidur lalu menatap wajahmu, mas. Rasanya suwenang dan tuwenang. Sebagai seseorang yang kerap dirundung cemas, khawatir, dan ketakutan berlebihan, saya bisa seketika merasa damai saat tau kamu ada di sisiku. Sesederhana itu. Berkat kamu, saya merasa semua akan baik-baik saja. Saya merasa sanggup untuk berjuang sedikit lagi meski ada kemungkinan semuanya akan sia-sia (lagi). Saya merasa bisa menjalani hidup sedikit lebih lama lagi karena ada kamu yang menanti di setiap pagi, atau di ujung malam saat letih sedang asik menggerogoti diri. Terima kasih, karena sudah kembali meniupkan ruh pada saya yang sempat mati. Ruh ruh dalam wujud gelak tawa, perhatian kecil, dan komitmen berkeluarg...

You could spoil me with respect

"Spoil me with respect and loyalty because I can finance myself." I'd rather marry a guy who isnt rich enough but he could respect me enough and see me egalitary. Saya dibesarkan oleh seorang single parent super kuwat yang bahkan ketika masih ada papa di dalam keluarga, beliau selalu menekankan bahwa perempuan harus mandiri. Perempuan ada untuk dilindungi laki-laki, namun bukan berarti kami harus lemah. Pun, menikah dan hidup bersama itu perkara gotong-royong, saling berkontribusi. Bukan siapa yang paling banyak andil, tapi soal bersikap adil.