It's 2 am in the morning and I am crying. Deeply, hardly, and drown in jealousy.
Saya cemburu melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Yang bisa mencintaimu dengan teramat sangat, sementara sekarang saya banyak marah dan sambatnya.
Saya sadar, saya telah mematahkan hatimu karena hati saya dipatahkan orang tuamu.
Saya melakukan hal yang saya benci, tanpa saya sadari.
I love you constantly, yet I angry at you frequently.
I am so stupid, I know.
Saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan di blog ini. Seharusnya ini bukan Things I Wish You Knew, tapi Things I Wish US Knew. Karena saya sangat layak dikoreksi dan dihukum oleh kamu.
Saya rindu keoptimisan di dalam tulisan saya, meski saya tahu betul, saya menulis postingan lama tersebut dengan berurai air mata.
Namun pahamilah, mas.
Saya tidak pernah menangis hingga sesak seperti beberapa malam belakangan.
Se-emosi-emosinya saya dengan kita, dan segemas apapun saya ke kamu, rasanya tidak pernah sesesak ini. Perasaan ini, sungguh menyiksa. Saya lebih baik menjalani proses naik turun denganmu karena tanpa kamu rasanya jauh lebih hampa.
Ibarat ruang hampa udara di luar angkasa. Pikiran saya mengapung kemana-mana. Berantakan.
Perasaan saya jungkir balik tidak karuan. Air mata saya melayang-layang berserakan.
Saya ingin mendarat lagi. Memijak bumi lagi. Berjalan lagi denganmu.
Tak apa perlahan, asal tak sendirian.
Tak apa menunggu lama, asal Firda bisa sama mas Yuka.
Saya cemburu melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Yang bisa mencintaimu dengan teramat sangat, sementara sekarang saya banyak marah dan sambatnya.
Saya sadar, saya telah mematahkan hatimu karena hati saya dipatahkan orang tuamu.
Saya melakukan hal yang saya benci, tanpa saya sadari.
I love you constantly, yet I angry at you frequently.
I am so stupid, I know.
Saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan di blog ini. Seharusnya ini bukan Things I Wish You Knew, tapi Things I Wish US Knew. Karena saya sangat layak dikoreksi dan dihukum oleh kamu.
Saya rindu keoptimisan di dalam tulisan saya, meski saya tahu betul, saya menulis postingan lama tersebut dengan berurai air mata.
Namun pahamilah, mas.
Saya tidak pernah menangis hingga sesak seperti beberapa malam belakangan.
Se-emosi-emosinya saya dengan kita, dan segemas apapun saya ke kamu, rasanya tidak pernah sesesak ini. Perasaan ini, sungguh menyiksa. Saya lebih baik menjalani proses naik turun denganmu karena tanpa kamu rasanya jauh lebih hampa.
Ibarat ruang hampa udara di luar angkasa. Pikiran saya mengapung kemana-mana. Berantakan.
Perasaan saya jungkir balik tidak karuan. Air mata saya melayang-layang berserakan.
Saya ingin mendarat lagi. Memijak bumi lagi. Berjalan lagi denganmu.
Tak apa perlahan, asal tak sendirian.
Tak apa menunggu lama, asal Firda bisa sama mas Yuka.
Komentar
Posting Komentar