Langsung ke konten utama

Kecil bagimu, besar bagiku.

Belakangan ini saya merasa sedang divonis hukuman mati padahal yang saya tahu cuma bagaimana cara mencintaimu setengah mati.
Semacam akan dihukum gantung, padahal saya ndak pernah menggantungkan kita.
Semacam dieksekusi untuk dipenggal, padahal melihat sekelebat dokumentasimu bersama dia yang sudah berlalu saja nafas saya sudah tersengal-sengal.

Sejujurnya,
Saya sedih karena harus menerima perubahanmu, yang bukan disebabkan olehku.
Kalau kata lagu dangdut berjudul Angge-angge orong-orong, saya ini ibarat "ora melok nggawe tapi melok momong."
(Percayalah saya nggak suka dangdut. Ini hanya efek terpapar panggung campur sarian dan dangdutan dekat rumah selama beberapa tahun tinggal di Malang)

Saya sedih karena merasa kamu tidak adil.
Yang meninggalkanmu kan dia, bukan aku.
Yang meragukanmu dan mendiamkanmu kan dia, bukan aku.
Saya nggak kemana-mana, dan malah berusaha untuk mengusir mereka yang hendak datang begitu tau saya melajang. Demi kamu.
Saya tidak menjauh darimu dan malah berusaha mendekat meskipun harus berkorban tenaga dan waktu. Juga demi kamu.
Tapi kok sepertinya kamu terlihat lebih bangga saat dengannya daripada saat denganku?

Apa memang harus mempermainkanmu dan menjadi perempuan yang gemar tarik ulur begitu ya biar kamu berusaha sekuat tenaga untuk mengakuisisiku secara offlline dan online?
Apakah memiliki wawasan dan pengalaman serta kemauan yang unik tidak lebih baik dari penampilan ala hijabers masa kini?
Huhu, kalau memang betul begitu, tau gitu saya daridulu belajar dandan daripada memperdalam bacaan. Mending mempertajam pensil alis daripada mempertajam keingintahuan. Mending belajar melukis di wajah daripada melukiskan ketimpangan gender di negri kita melalui tulisan (waduduh berat sekali Fir hahaha)

Bagi saya, kamu sungguh tidak adil.
Perhatian kecil darinya mendapat apresiasi darimu, sementara aku tidak. (Kamu tidak tahu ya bagaimana susahnya membersihkan cumi-cumi?! Hahaha. Bercanda. Membersihkannya mudah kok. Memasaknya juga mudah. Mending buat masak sendiri daripada jajan Yoshinoya. Wqwq)

Tapi mungkin kamu memang sudah berubah dan saya harus bisa menerima.
Tidak sehangat dulu dan lebih bertumpu pada interaksi riil.
Pertanyaannya, bagaimana jika sudah tidak intens lagi?
Tapi ya sudahlah, toh ini hanya racauan anak kecil.
Toh saya hanya terisak kecil-kecil.
Toh ini cuma ocehan kosong mengenai hal-hal kecil.

Hal kecil bagimu, besar bagiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Floating like an astronot

It's 2 am in the morning and I am crying. Deeply, hardly, and drown in jealousy. Saya cemburu melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Yang bisa mencintaimu dengan teramat sangat, sementara sekarang saya banyak marah dan sambatnya. Saya sadar, saya telah mematahkan hatimu karena hati saya dipatahkan orang tuamu. Saya melakukan hal yang saya benci, tanpa saya sadari. I love you constantly, yet I angry at you frequently. I am so stupid, I know. Saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan di blog ini. Seharusnya ini bukan Things I Wish You Knew, tapi Things I Wish US Knew. Karena saya sangat layak dikoreksi dan dihukum oleh kamu. Saya rindu keoptimisan di dalam tulisan saya, meski saya tahu betul, saya menulis postingan lama tersebut dengan berurai air mata. Namun pahamilah, mas. Saya tidak pernah menangis hingga sesak seperti beberapa malam belakangan. Se-emosi-emosinya saya dengan kita, dan segemas apapun saya ke kamu, rasanya tidak pernah sesesak ini. Perasaan in...

Waking up next to you was the best feeling ever

"Waking up next to someone that you love the most" is the only thing that I need the most. Saya selalu senang saat bisa menatap wajahmu. Ntah itu di kantor, di IG stories, atau waktu melakukan video call. Tapi, semua kesenangan itu tidak ada yang bisa menandingi perasaan bangun tidur lalu menatap wajahmu, mas. Rasanya suwenang dan tuwenang. Sebagai seseorang yang kerap dirundung cemas, khawatir, dan ketakutan berlebihan, saya bisa seketika merasa damai saat tau kamu ada di sisiku. Sesederhana itu. Berkat kamu, saya merasa semua akan baik-baik saja. Saya merasa sanggup untuk berjuang sedikit lagi meski ada kemungkinan semuanya akan sia-sia (lagi). Saya merasa bisa menjalani hidup sedikit lebih lama lagi karena ada kamu yang menanti di setiap pagi, atau di ujung malam saat letih sedang asik menggerogoti diri. Terima kasih, karena sudah kembali meniupkan ruh pada saya yang sempat mati. Ruh ruh dalam wujud gelak tawa, perhatian kecil, dan komitmen berkeluarg...

You could spoil me with respect

"Spoil me with respect and loyalty because I can finance myself." I'd rather marry a guy who isnt rich enough but he could respect me enough and see me egalitary. Saya dibesarkan oleh seorang single parent super kuwat yang bahkan ketika masih ada papa di dalam keluarga, beliau selalu menekankan bahwa perempuan harus mandiri. Perempuan ada untuk dilindungi laki-laki, namun bukan berarti kami harus lemah. Pun, menikah dan hidup bersama itu perkara gotong-royong, saling berkontribusi. Bukan siapa yang paling banyak andil, tapi soal bersikap adil.