Langsung ke konten utama

Kalau kamu patah hati, haruskah mematahkan hati orang lain?

Saya pernah ditikung oleh sahabat, dan diputuskan oleh mas pacar karena dia memilih sahabat saya tersebut. Sejak itu, saya menajdi manusia paling skeptis dan malas berwelas asih terhadap sesama. Saya melajang hampir dua tahun sampai akhirnya bertemu dengan lelaki sebelum kamu. Di sela-sela patah hati itu, saya menyibukkan diri dengan kegiatan paski, standup comedy, dan menjadi kuli tinta. "Bijak sekali ya Firda." Oh tentu tidak. Saya juga sempat mencak-mencak di sosial media dan menulis sambatan di blog. Ya namanya juga patah hati sepatah-patahnya. Tidak ada seharipun terlewat tanpa saya stalking sosial media mereka hanya untuk mematahkan diri sendiri, berkali-kali. Doa-doa buruk dan sumpah serapah juga rutin saya panjatkan kepada yang Maha. Berbagai usaha untuk mematahkan mereka juga saya kerahkan tidak habis-habis. Saya memperbaiki diri, saya menambah prestasi, saya menjadi perempuan mandiri; begitu cara saya membuat mantan menyesal.
Dan mereka pun akhirnya putus, namun saya tidak mau kembali. Saya hanya suka melihat mantan saya menyesali apa yang dilewatkannya. Saya suka membuat orang yang mematahkan hati saya, kini patah hatinya. Gak mek cuklek, tapi wajur alus koyok puyer. Its a big win for me.

Saya pernah sejahat itu sampai akhirnya saya sadar, untuk apa sih mematahkan hati orang lain hanya karena kita sedang patah hati?
Untuk apa sih mengadili orang lain atas kesalahan yang bahkan belum tentu diperbuatnya?
Mantan kekasihmu bolehlah menjadi manusia paling menyebalkan di muka bumi, namun pasanganmu yang sekarang belum tentu.

Kamu tersakiti, tapi bukan berarti kamu boleh menyakiti orang lain.

Jangan sampai patahnya hatimu, pupusnya rencanamu, dan hilangnya harapanmu mengubah caramu mencintai dan menghargai seseorang.

Hal itu yang kini sedang saya terapkan.
Sepatah apapun saya dulu, saya masih akan tetap memelukmu erat, menghargaimu setinggi mungkin, dan mencintaimu dengan seluruh serta sisaku. Sebagaimana aku mencintai seluruh serta sisamu.



Relationship don't last because of good times; they last because  the hard times were handled with love and care.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Floating like an astronot

It's 2 am in the morning and I am crying. Deeply, hardly, and drown in jealousy. Saya cemburu melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Yang bisa mencintaimu dengan teramat sangat, sementara sekarang saya banyak marah dan sambatnya. Saya sadar, saya telah mematahkan hatimu karena hati saya dipatahkan orang tuamu. Saya melakukan hal yang saya benci, tanpa saya sadari. I love you constantly, yet I angry at you frequently. I am so stupid, I know. Saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan di blog ini. Seharusnya ini bukan Things I Wish You Knew, tapi Things I Wish US Knew. Karena saya sangat layak dikoreksi dan dihukum oleh kamu. Saya rindu keoptimisan di dalam tulisan saya, meski saya tahu betul, saya menulis postingan lama tersebut dengan berurai air mata. Namun pahamilah, mas. Saya tidak pernah menangis hingga sesak seperti beberapa malam belakangan. Se-emosi-emosinya saya dengan kita, dan segemas apapun saya ke kamu, rasanya tidak pernah sesesak ini. Perasaan in...

Waking up next to you was the best feeling ever

"Waking up next to someone that you love the most" is the only thing that I need the most. Saya selalu senang saat bisa menatap wajahmu. Ntah itu di kantor, di IG stories, atau waktu melakukan video call. Tapi, semua kesenangan itu tidak ada yang bisa menandingi perasaan bangun tidur lalu menatap wajahmu, mas. Rasanya suwenang dan tuwenang. Sebagai seseorang yang kerap dirundung cemas, khawatir, dan ketakutan berlebihan, saya bisa seketika merasa damai saat tau kamu ada di sisiku. Sesederhana itu. Berkat kamu, saya merasa semua akan baik-baik saja. Saya merasa sanggup untuk berjuang sedikit lagi meski ada kemungkinan semuanya akan sia-sia (lagi). Saya merasa bisa menjalani hidup sedikit lebih lama lagi karena ada kamu yang menanti di setiap pagi, atau di ujung malam saat letih sedang asik menggerogoti diri. Terima kasih, karena sudah kembali meniupkan ruh pada saya yang sempat mati. Ruh ruh dalam wujud gelak tawa, perhatian kecil, dan komitmen berkeluarg...

You could spoil me with respect

"Spoil me with respect and loyalty because I can finance myself." I'd rather marry a guy who isnt rich enough but he could respect me enough and see me egalitary. Saya dibesarkan oleh seorang single parent super kuwat yang bahkan ketika masih ada papa di dalam keluarga, beliau selalu menekankan bahwa perempuan harus mandiri. Perempuan ada untuk dilindungi laki-laki, namun bukan berarti kami harus lemah. Pun, menikah dan hidup bersama itu perkara gotong-royong, saling berkontribusi. Bukan siapa yang paling banyak andil, tapi soal bersikap adil.