Saya pernah ditikung oleh sahabat, dan diputuskan oleh mas pacar karena dia memilih sahabat saya tersebut. Sejak itu, saya menajdi manusia paling skeptis dan malas berwelas asih terhadap sesama. Saya melajang hampir dua tahun sampai akhirnya bertemu dengan lelaki sebelum kamu. Di sela-sela patah hati itu, saya menyibukkan diri dengan kegiatan paski, standup comedy, dan menjadi kuli tinta. "Bijak sekali ya Firda." Oh tentu tidak. Saya juga sempat mencak-mencak di sosial media dan menulis sambatan di blog. Ya namanya juga patah hati sepatah-patahnya. Tidak ada seharipun terlewat tanpa saya stalking sosial media mereka hanya untuk mematahkan diri sendiri, berkali-kali. Doa-doa buruk dan sumpah serapah juga rutin saya panjatkan kepada yang Maha. Berbagai usaha untuk mematahkan mereka juga saya kerahkan tidak habis-habis. Saya memperbaiki diri, saya menambah prestasi, saya menjadi perempuan mandiri; begitu cara saya membuat mantan menyesal.
Dan mereka pun akhirnya putus, namun saya tidak mau kembali. Saya hanya suka melihat mantan saya menyesali apa yang dilewatkannya. Saya suka membuat orang yang mematahkan hati saya, kini patah hatinya. Gak mek cuklek, tapi wajur alus koyok puyer. Its a big win for me.
Saya pernah sejahat itu sampai akhirnya saya sadar, untuk apa sih mematahkan hati orang lain hanya karena kita sedang patah hati?
Untuk apa sih mengadili orang lain atas kesalahan yang bahkan belum tentu diperbuatnya?
Mantan kekasihmu bolehlah menjadi manusia paling menyebalkan di muka bumi, namun pasanganmu yang sekarang belum tentu.
Kamu tersakiti, tapi bukan berarti kamu boleh menyakiti orang lain.
Jangan sampai patahnya hatimu, pupusnya rencanamu, dan hilangnya harapanmu mengubah caramu mencintai dan menghargai seseorang.
Hal itu yang kini sedang saya terapkan.
Sepatah apapun saya dulu, saya masih akan tetap memelukmu erat, menghargaimu setinggi mungkin, dan mencintaimu dengan seluruh serta sisaku. Sebagaimana aku mencintai seluruh serta sisamu.
Relationship don't last because of good times; they last because the hard times were handled with love and care.
Dan mereka pun akhirnya putus, namun saya tidak mau kembali. Saya hanya suka melihat mantan saya menyesali apa yang dilewatkannya. Saya suka membuat orang yang mematahkan hati saya, kini patah hatinya. Gak mek cuklek, tapi wajur alus koyok puyer. Its a big win for me.
Saya pernah sejahat itu sampai akhirnya saya sadar, untuk apa sih mematahkan hati orang lain hanya karena kita sedang patah hati?
Untuk apa sih mengadili orang lain atas kesalahan yang bahkan belum tentu diperbuatnya?
Mantan kekasihmu bolehlah menjadi manusia paling menyebalkan di muka bumi, namun pasanganmu yang sekarang belum tentu.
Kamu tersakiti, tapi bukan berarti kamu boleh menyakiti orang lain.
Jangan sampai patahnya hatimu, pupusnya rencanamu, dan hilangnya harapanmu mengubah caramu mencintai dan menghargai seseorang.
Hal itu yang kini sedang saya terapkan.
Sepatah apapun saya dulu, saya masih akan tetap memelukmu erat, menghargaimu setinggi mungkin, dan mencintaimu dengan seluruh serta sisaku. Sebagaimana aku mencintai seluruh serta sisamu.
Relationship don't last because of good times; they last because the hard times were handled with love and care.
Komentar
Posting Komentar