Langsung ke konten utama

About Author and Table of Contents

Selayaknya sebuah blog dan portal bacaan lainnya, pastilah ada pembagian-pembagian topik dan rubrik-rubrik khusus yang disajikan untuk pembaca. Namun karena pembaca laman ini hanyalah kita berdua saja, maka aturan itu kuganti menjadi perihal jatah tulis menulis.

Kelak, di dalam blog ini, kuharap akan ada tulisanmu. Hal-hal yang mungkin ingin kamu sampaikan namun tidak kunjung bisa, padahal penting untuk diutarakan.
Atau sekadar gombalan-gombalan manis dan photojournal yang mediumnya bisa lebih leluasa ketimbang hanya di Instagram saja.

Beberapa hal yang sudah diutarakan mungkin akan telupakan karena sifat dasar manusia yang memang pelupa dan kemampuan ingatan yang butuh direfresh. Maka dari itu, agar tidak denial dengan hal-hal buruk yang terjadi, I'll keep my sadness and my happiness here. So we gotta remember our faillure and hopefully, we wont do it again.

Setidaknya, selain jadi penenang, tulisan-tulisan di sini juga bisa menjadi pengingat bahwa bertengkar itu melelahkan. Memendam itu menyesakkan. Dan jangan sampai mengalami kehilangan dulu hingga akhirnya paham bagaimana cara menjaga maupun menghargai kehadiran.

Btw, tiap postingan yang ditulis olehmu boleh ditandai -Yabara- atau sejenis itu. Biar mirip shift admin akun kepresidenan atau akun media center gituloh. Hahahaha

No, I am joking.
You could write anything that u want to write.

Mari mengisi kenangan dan pelajaran! Anggap saja kita adalah dua orang guru yang tengah menyusun kurikulum demi kelancaran proses pembelajaran dan tercapainya nilai KKM dan kelulusan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Floating like an astronot

It's 2 am in the morning and I am crying. Deeply, hardly, and drown in jealousy. Saya cemburu melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Yang bisa mencintaimu dengan teramat sangat, sementara sekarang saya banyak marah dan sambatnya. Saya sadar, saya telah mematahkan hatimu karena hati saya dipatahkan orang tuamu. Saya melakukan hal yang saya benci, tanpa saya sadari. I love you constantly, yet I angry at you frequently. I am so stupid, I know. Saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan di blog ini. Seharusnya ini bukan Things I Wish You Knew, tapi Things I Wish US Knew. Karena saya sangat layak dikoreksi dan dihukum oleh kamu. Saya rindu keoptimisan di dalam tulisan saya, meski saya tahu betul, saya menulis postingan lama tersebut dengan berurai air mata. Namun pahamilah, mas. Saya tidak pernah menangis hingga sesak seperti beberapa malam belakangan. Se-emosi-emosinya saya dengan kita, dan segemas apapun saya ke kamu, rasanya tidak pernah sesesak ini. Perasaan in...

Waking up next to you was the best feeling ever

"Waking up next to someone that you love the most" is the only thing that I need the most. Saya selalu senang saat bisa menatap wajahmu. Ntah itu di kantor, di IG stories, atau waktu melakukan video call. Tapi, semua kesenangan itu tidak ada yang bisa menandingi perasaan bangun tidur lalu menatap wajahmu, mas. Rasanya suwenang dan tuwenang. Sebagai seseorang yang kerap dirundung cemas, khawatir, dan ketakutan berlebihan, saya bisa seketika merasa damai saat tau kamu ada di sisiku. Sesederhana itu. Berkat kamu, saya merasa semua akan baik-baik saja. Saya merasa sanggup untuk berjuang sedikit lagi meski ada kemungkinan semuanya akan sia-sia (lagi). Saya merasa bisa menjalani hidup sedikit lebih lama lagi karena ada kamu yang menanti di setiap pagi, atau di ujung malam saat letih sedang asik menggerogoti diri. Terima kasih, karena sudah kembali meniupkan ruh pada saya yang sempat mati. Ruh ruh dalam wujud gelak tawa, perhatian kecil, dan komitmen berkeluarg...

You could spoil me with respect

"Spoil me with respect and loyalty because I can finance myself." I'd rather marry a guy who isnt rich enough but he could respect me enough and see me egalitary. Saya dibesarkan oleh seorang single parent super kuwat yang bahkan ketika masih ada papa di dalam keluarga, beliau selalu menekankan bahwa perempuan harus mandiri. Perempuan ada untuk dilindungi laki-laki, namun bukan berarti kami harus lemah. Pun, menikah dan hidup bersama itu perkara gotong-royong, saling berkontribusi. Bukan siapa yang paling banyak andil, tapi soal bersikap adil.